Tuesday, April 21, 2009

About Kartini's day and things about it (for girls, this is soo sooo soooo worth to read deh)

Well, seems that I obliged to post this In Bahasa Indonesia. Mengapa, karena disini gw akan mengungkapkan, menceritakan, merefleksikan apa yang kaum perempuan Indonesia hari ini rayakan, yaitu Hari Kartini. Topiknya klise memang, apalagi ditengah perkembangan zaman sekarang ini, dimana para wanita modern dan mandiri sepertinya makin sibuk dengan urusannya masing-masing. Ooops, seems like I must not say that, rite ? Mungkin saja dan pastinya masih ada yang care dengan adanya hari kartini ini. Bukan hanya sekedar melihat kalender, nyalain tv, dan baru nyadar, "Oh, iya 21 april, hari ini hari kartini kan..." Then, it goes without any meaning. No no no it mustn't be in that waaay. That's what I'm gonna talk about.

Tadi pagi, I turned on the Tv. Then, yang pertama kali nyala adalah infotainmen, yang biasanya selalu rame banget pada jam 7pagian gitu. "Oh Annisa Pohan", gitu kata gw dalem hati. She talked neither about her life nor her family, but about Kartini's day. Then, It came to Dian Nitami. Katanya, she still can be a good mother sesuai dengan kodratnya, tetapi tetap bisa menjadi seorang wanita modern di sisi lain, dengan tetap menjalankan kodratnya.

Tayangan inilah yang membuat "tek" tersentak. Yes, I confess bahwa selama ini, bahkan beberapa saat sebelom gw nyalain tv, mungkin yaaa gw gak sebegitunya aware sama kartini, or hari kartini. Imajinasi gw gak sebegitu liarnya bayangin apa yang bakalan terjadi di masa sekarang ini kalo misalnya Ibu Kartini gak memperjuangkan hak-hak wanita, what we called in more cool way, emancipation. Dan, inilah efeknya, thoughts are blowin on my mind all day long, about this topic.

Pada umur segini, let say umur-umur anak SMA. Dan pada pola, motif, jenis, budaya kehidupan di sekeliling gw sekarang ini yaitu kehidupan anak-anak tengah ibukota dengan segal bentuk hedonisme nya, bisa gw bilang disini agak careless dengan this kartini-kartini thing. Di umur segini, bukan lagi kebaya or baju-baju daerah lagi yang kita omongin dan kita fokusin. Dan bukan lagi mengappreciate dengan cara dipikiriiin dan dihayati banget, termasuk mikirin cara meneruskan perjuangan Ibu Kartini. Just do what you're doing, we've already got the fight girl ! the right yang harus bisa kita perjuangkan bila suatu ketika ada oknum-oknum yang mau ngelarang kita untuk menggunakannya.

OK, the right has and still used dengan sangaaaaaaat baik sampai dengan saat ini. Coba aja hitung perbandingan antara Wanita-wanita Indonesia yang kuliah, kerja, dengan wanita-wanita Indonesia yang still, dinikahin pada umur yang pada sepengelihatan kita gak sepantasnya dan mereka juga gak (diperbolehkan) sekolah a.k.a menempuh pendidikan yang pantas. Masiiih lebih banyak wanita Indonesia yang sekolah, kerja kan ? disamping ya pastinya ngejalanin kodrat sebagai ibu rumah tangga and the things like that.

But, In spite of what I've told you in the paragraph above, secara gak sengaja gw mengalami hal yang ada korelasinya dengan hari kartini ini. Well, mungkin gwnya aja yang baru nyadar. Tapi dalam bentuk sebaliknya. Bingung kaan, beginiiii :
Tadi pagi, sodara gw yg baru dateng dari padang ngajak jalan muter-muter naik mobil ke rumah Om Ee ( om gw yang bantuin ngurusin ktp itu lhoo) di daerah kuricang. Gw, Kemal, dan Bang Apit (nama sodara gw itu) pada belom mandi. Kita juga cuma bentar disitu. Then, because of roads on kuricang area are wide dan sepi2 gw pingin latihan nyetir, dan emang daritadi gw sama kemal udah ngerengek2 minta diajarin nyetir. Dan sebelumnya kita juga ngomong tentang hal nyetir2an, si Kemal ya cerita2 gitu kalo dia udah bisa, gw sih santai aja. Of course ther was a lil bit of jealousy, cuma karna gw udah berasa gede dan dewasa gw nyantai2 aja dan berusaha nyikapinnya dengan bijak dan biasa aja. Balik to the story of belajar nyetir, Kemal duluan dan setelah itu kata bang Apit wess udah jago nih kemal. Habis itu gw. Okelaaah, cuma agak2 gugup kalo ketemu motor2 gituu. Yaudaah gitu deeh,,,,,

Disitu masih berasa adanya bentuk perlakuan ketidaksetaraan gender. Kemal kayaknya lebih diutamain deeh, walaupun gw yang 17 tahun, walaupun gw yang sepertinya InsyaAllah dapet SIM duluan. Dia duluan lah yang nyoba, dia lebih jagolah (trust me, I'm fine with this), dll. Sedangkan gw seakan-akan dan mungkin memang gak se-skill adek gw itu, kalo di gw lebih dijagain nyetirnya, lebih seperti takut, dan begitulaah. Dalam konteks ini gw bukan bicara masalah iri2an karena memang gw it's all fine for me karena memang cowo secara alamiah lebih jago nyetir, tapi bagaimana cowo lebih dipercaya, cowo lebih diutamakan... Aduh beneran deh, mungkin dimata kalian ini sepele bangeet, cuma ya itu yang gw tangkep disini itu bukan masalah iri, skill, atau, dll. Cuma, dalam kehidupan sehari-hari kita pun masih gampang banget ditemuin bentuk ketidaksetaraan gender, even from littlest thing that we aren't even realized.

Sekarang, disisi lain. Ada juga lho menurut gw beberapa orang atau kaum yang menyalahgunakan emansipasi ataupun kesetaraan gender. Yang terlalu berkoar-koar untuk menyampaikan haknya, bahwa mereka para wanita harus bisa bebas ngelakuin apapun yang mereka mau.Futhermore, mungkin gw bisa panggil mereka dengan kaum feminis kali ya
? meskipun gw sebagai orang awam juga gak terlalu ngerti secara harfiah apasih kaum feminis ini. Yang gw tau, para feminis itu sangatlah menjunjung tinggi hak wanita, dan kadang-kadang gw gak suka. Karena gw secara pribadi, masih memegang some of conventional values, karena gw sendiri adalah seorang muslim. Bahwa kita sebagai wanita punya kodrat, kodrat, kodrat. Dan kalau secara Islam contohnya, seorang wanita harus tunduk kepada suami. Okelah dalam dunia modern di Indonesia ini, lo sudah mendapatkan emansipasi yang tadi udah gw bahas.

OKE, hak kita sama kayak cowo
OKE, kita diuntungkan banget dengan adanya kesetaraan gender
OKE, bahwa kita bisa jadi bos, even a president
OKE, bahwa kita dikatakan memang lebih kuat daripada laki-laki

cumaaa, halloooo kita ini tetap loh, seorang perempuan. Melahirkan, ngurusin suami, balik ke dapur, itulah kewajiban kita sebagai seorang perempuan a.k.a kodrat. Kodrat inilah kewajiban lo. Kodrat ini bukan penghalang lo untuk menikamati persamaan gender. bukan penghalang. Sama logikanya kaya persamaan antara hak dan kewajiban, yang kita udah pelajarin dari sd. Kalo lo mau dapet hak, lo harus ngelakuin kewajiban lo. Dan dalam masalah ini, kalo lo mau hak lo, lo gak boleh ninggalin kodrat lo.

suatu kapaan gitu nyokap gw pernah ngomong gini " tuh liat bunda kak, sedokter-dokternya dia, masih aja kan balik ke dapur." Bunda ini tante gw yang jago sekaliii masaknya. Dan sepertinya sedang menikmati pekerjaannya sebagai seorang dokter spesialis kebidanan. Beliau adalah seorang wanita karier yang menikmati pekerjaannya dan tetap menjalani kodratnya. Menurut gw contoh ini sudah cukup mewakili kok, selanjutnya pasti kita bisa ambil contoh dari wanita-wanita lain yang tentunya lo sendiri pasti punya contohnya dari kehidupan keseharian lo masing-masing.

Nah, gimana dengan misused-emancipation. Kalo di pandangan gw, para wanita yang menggunakan emansipasinya dengan over itu, adaaa yang mungkin gak memegang values yang seharusnya tetap kita pegang no matter how influent the globalization is, ada jugaa yang lebih mementingkan karier daripada kewajiban. MUNGKIN.

sebagai contoh, kita punya Mrs. M, dan gw sendiri sedikit banyak adoring her for her strength in facing every big problems in her life. She is so well-known around the country, beautiful, genious in making such a good music. Seems that, dia lebih mementingkan kariernya, gitu loh yang gw tangkep. Bukan anak-anaknya, yang dia akuin juga dia sayangi, cintai, dan kangenin banget. Oke dia berjuang untuk anak-anaknya itu. Cumaaa, tetap saja prioritas utama Mrs. M ini adalah karier dan kreasinya. Ceritanya mungkin, mantan suaminya memang such a bas**** yang gak mau istrinya 'lebih' daripada dia. Dan Mrs M ini gak tahan kreativitasnya dikungkung. Maka cerailah dia, dengan salah satu motifnya MUNGKIN, gak ingin dihambat kreatifitasnya. Tapi hellooo, you are a mom, dan seyogyanya, dia memilih anak-anaknya. DAri sini bisa terlihat, perjuangan dia untuk anaknya pun gak dijadikan yang uuuutama. Dia tetap saja, gak mempergunakan hak asuhnya, dan tetap berkarya. Dalam poin ini gw gak tau ya, pasti dia punya alasan lain kenapa dia gak/belum menggunakan haknya itu. Tapi tetap saja, dalam kacamata publik awam, seperti gw, sepertinya adorable strong inspiringw woman ini 'lebih ke kariernya' ???

sebagai contoh, banyak lah para feminis yang gak mau nikah lah, gak mau punya anak lah, penganut hidup bebas lah (eh gak nyambung, dll). Buat hal itu mungkin balik ke diri masing-masing. Tiap orang pasti punya pola pikir sendiri dan pendapat sendiri, dan punya cara sendiri dalam menjalani hidup mereka. It's genuinely a choice ! tapi kalo di pandangan gw : halloooo, lo orang Indonesia, lo tinggal di Indonesia, kita orang timur, kita punya values, dan seyogyanya jangan karna globalisasi lo jadi punya pola pikir nyeleneh sendiri, tempat lo tinggal ini bukan negara liberal, kalo lo mau bebas you'd better move to Amerika

In my conclusion, berhubung ini juga udah malem bgt dan gw udah cwapeek, giniii,

You are a girl or woman
You are stronger than boys
You have the right
You have got the emancipation
It's very good if you become an independent modern woman ( of course I'm /we are pro on this)
but, you cannot deny, that you need a boy or a man
but, no matter how "stand up" are you, you still have some big obligation as a woman
but, you cannot deny all of your kodrat

That are my reflection about this day... It's so so Ok if you're not go with my thoughts ;) heheheeeeee

1 comment:

Anonymous said...

Ni Blog terlalu Narsis ataw Anarkis??
wkwkwkwkw. canda-canda cux...
kunjungin donk blog gwe
http://gwbangat-musikmylife.blogspot.com/