Saturday, November 14, 2009

konsekuensi dari sebuah hak berdemokrasi

Demokrasi. Sebuah kata dahsyat, membangkitkan euforia, dan yang pasti cukup identik dengan negara kita selama kurang lebih 11 tahun ini. Demokrasi telah diperjuangkan dan diwujudkan. Semua orang seakan-akan berpesta pora tiap kali pesta-pesta demokrasi dilaksanakan. Demokrasi diagungkan dimana-mana, sebagai perwujudan rasa puas masyarakat atas hak dan kebebasannya. Tanpa melupakan bahwa demokrasi itu sendiri pada sisi lain telah menimbulkan ketidakstabilan dalam beberapa sendi-sendi kehidupan bernegara.

Dalam tulisan ini, izinkanlah saya mengambil contoh dari pengalaman berdemokrasi saya. Sebagai warga negara yang beberapa bulan yang lalu telah mendapatkan hak untuk menggunakan hak berdemokrasinya, euforia pun saya rasakan. Bagaimana seorang anak muda untuk pertama kalinya bisa memilih, sangat menikmati proses pendidikan berpolitiknya. Pada waktu itu, saya telah menetapkan siapa yang akan saya pilih jauh sebelum hak suara saya gunakan. Berbagai harapan telah saya gantungkan selama masa-masa itu. Informasi-informasi politik pun telah saya gali terus menerus, sama halnya seperti pengguna hak-hak yang lain. Apabila ada kekurangan, saya lebih memilih untuk menimbang-nimbangnya dengan bijaksana. Proses pendidikan berpolitik ini saya nikamti dengan sangat, bahkan sering saya share dengan teman-teman saya di situs-situs jejaring sosial. Tidak ada sedikit pun negative thinking akan proses ini.

Namun, di negara kita ini, kenyataan berkata lain. Hak telah saya gunakan, dan pemerintahan baru pun telah mulai bekerja. Kekecewaan mulai timbul pada saat pemerintahan baru ini mulai bergulir. Hal-hal berjalan tidak seperti yang saya dan rakyat lain inginkan. Keputusan-keputusan diambil

No comments: