Sunday, May 30, 2010

menelevisikan realita





Realita. Segala impian, rencana, dan cita-cita bisa terbentur karena realita. Sesuatu hal yang pasti, yang terjadi, kenyataan yang ada. Satu hal yang gw yakin adalah, nggak semua hal yang kita impikan, cita-citakan, khususnya kita rencanakan bisa terealisasikan. Ada suratan takdir bahwa realita bisa saja bertentangan dengan itu. Kemudian, kecewakah kita ? marahkah kita ? gusarkah kita ? sebagai manusia, makhluk yang pastinya manusiawi, jawabannya adalah YA.

Adalah suatu kebiasaan bagi kita untuk bermimpi dan bercita-cita dengan penuh harapan, berencana dengan serius, matang, dan penuh harapan, sebelum semuanya harus dihadapkan dengan realita. Selagi masih bermimpi, bercita-cita, dan berencana, sedikit diantara kita yang bisa dan mau untuk melihat realita. "Ah, takut kecewa," begitu alasan lazimnya. Padahal, cepat atau lambat realita pun harus kita hadapi.

Sekarang, anggap saja realita sudah kita hadapi dan tidak sesuai dengan cita-cita, harapan, dan rencana. Seperti yang sudah gw tekankan di atas, pasti kita akan marah, kecewa, dan gusar. Terlebih lagi apabila cara 'dunia' untuk memberi tahu realita ini cukup membangkitkan emosi, hormon kemarahan, ataupun segala energi negatif dari diri kita.





Beruntunglah apabila kita ditakdirkan untuk menemukan cara yang lebih baik untuk mengetahui realitas ini. Gw pribadi cukup bersyukur telah menemukan cara yang ini setelah sebelumnya telah dibuat berapi-api oleh cara menemukan realita yang cukup mendidihkan darah dalam diri gw. Cara yang satu ini lebih baik, lebih menstimulir kerja otak dan logika gw ketimbang kerja emosi dan perasaan. Dan, tanpa diharapkan sebelumnya, telah membuat diri gw menemukan suatu yang bisa disebut sebagai sebuah teori:

"Kalo lo tetep gak bisa nerima kenyataan yang ada, yang sedang terjadi, lo televisikan saja hal tersebut. Anggap semuanya masuk kedalam kotak ajaib yang bernama tv ini. Semua hal, sekalinya masuk tv akan terlihat seenggaknya sedikit lebih bagus. Dan bukannya gak mungkin, sisi-sisi yang paling membuat lo gak nyaman, lo gak suka, akan terlihat at least sedikit ada bagian indahnya (oh no, eeergh gw jujur gak ikhlas nulis yg ini) ralat : at least sedikit ada bagian, yang tadinya membuat emosi, jadi cukup seru."


Oke, gw yakin pasti kalian semua masih bingung akan teori belibet gw diatas. Sepertinya gw harus ngasih beberapa contoh simpelnya.

- lo penggemar setia sinetron cinta fitri. Setiiap hari lo ikutin bagaimana perjalanan Mischa ngobrak-ngabrik kehidupan keluarga Hutama, nyiksa fitri, dll. Sebagai manusia berakal, pasti lo bakal emosi dong liat polah tingkah si Mischa. Dan sebagai manusia berakal, pasti lo gak akan mau kan misalnya di dunia nyata ada orang sejahat itu masuk ke kehidupan keluarga lo ??? Tapi, secara semua hal ini terjadi di dalam tv, sadar gak sadar lo pasti menikmati itu. Di balik semua emosi lo sama Mischa, gw yakin 100% lo masih menikmati nonton sinetron ini. Lo menikmati alur cerita, menikmati tegangnya, deg-degan, dan segala rasa penasaran.
- contoh lain, lo penggemar berat sitkom opera van java di Trans 7 dimana pelawak-pelawak itu seolah-olah sering 'dianiaya' oleh temen-temennya sendiri, walaupun cuma dengan 'tembok' karton, dll. Kita ketawa, kita terhibur, kita terbahak-bahak kan liat 'penganiayaan' itu. Belom lagi kalo si Sule mulai cak-cakin si Azis gagap (yang menurut gw gak lucu itu), pasti lita semua makin tambah kegelian kan ? Kayanya hidup bahagiaa banget liat penderitaan orang, beban-beban satu persatu ilang dari kepala. Kenapa ? karena semua 'penganiayaan' itu ada di tv. Belum lagi si orang-orang tv mengemas dan memformat 'penganiayaan' ini menjadi sebuah tontonan yang lucu. Sekarang, lo sebagai manusia normal coba bayangin kalo semua humor di sitkom ovj ini benar-benar nyata. Bayangin, lo seenaknya dilemparin tembok beneran sama temen segeng lo atau lo dicak-cakin habis-habisan gak karuan gak berenti-berenti sama mereka. Kesabaran manusia ada batasnya lho. Secara logika gw juga yakin gak mungkin lo nrimo terus-terusan digituin.

~~~

Nah nah nah, got it already ? intinya, sesuatu hal, sebuah realita, apabila 'ditelevisikan' akan terlihat, walaupun kadarnya sedikit, lebih baik. DANG DANG DANG ~ gw gatau mo ngomong apa lagi saat ini ( sebenernya post ini udah gue tulis beberapa hari yang lalu dengan kadar mood dan hormon-hormon yang sangat mendukung, sekarang entah kenapa sudah agak 'datar'. Mungkin ini pengaruh frekuwnsi ~~~)

Thanks Clarkie Kentie for inspiring me to write this and for making me smile because of some unpleasant fact about you ;) You are no longer my CRUSH, you are my INSPIRATOR. Tapi gw masih belom bisa janji kalo gw gak akan pingsan pada saatnya gw liat lo pake kostum dan berubah jadi superman ;)

No comments: