Monday, April 7, 2014

Ngeracau dikit

CAN I BE 21 FOREVEEER ? Caaaan ? Caaaan ?

Hari ini lagi pingin ngeracau aja. Saya lagi rapihin data buat skripsi, sekaligus browsing-browsing. Browsing kota-kota yang ada uni yang nawarin program master yang saya pingin. Terus mampir ke blog mahmud-mahmud Jakarta dengan kehidupannya. Terus keinget endingnya HIMYM.

Endingnya HIMYM ? Haaaa Haaaa. Hahahaha, udah capek deh saya emosi hahaha. Beruntung banyak reddit fellas, tumblr fellas, dkk. Ndak usah dibahas detail lagi deh ya disini, wkwk.

Terus semuanya jadi campur di pikiran saya. I'm 22 now. Nganggur gila-gilaan selain depan laptop skripsian doang. Tapi, kedepannya saya semacam beneran masuk dunia dewasa. Dewasa maksudnya disini bertanggung jawab ya. Gaboleh menye-menye lagi, harus make up my mind, dll. Plan sih ada, since I always been excited when it comes to life plans. Passion iyah, sih. Tapi... yaitu. Kalo ditanya life goals lagi. Kalo misalnya saya udah mencapai semua itu, terus apa. Kalo saya gak mencapai semua itu, terus how will I take it, etc. Intinya, antara excited sama ngeri. Karena kedepannya itu tanggung jawab saya. Ortu saya yang luar biasa itu mungkin nantinya lebih berperan untuk kasih saran. Gabisa lagi berlindung dibawah lindungan orang tua. Ada tanggungan. Dengan mikir ini saja saya ngerasa dirongrong sama A,B,C and so on. Terus jadi mikir,,,,

Deuh enak banget ya 21. The time of my life lah istilahnya. Belajar dewasa iya ya, cuma hidup kayanya enaaak banget, bukan maksudnya sekarang gak enak ya. Status mahasiswa, lagi hepi-hepinya jadi asisten. Pake duit semau saya. Pulang kampus terus ke pim, beberapa kali *ini minta dilempar bom banget sih sesuatunya* Belom ada rongrongan tugas akhir. Masih jadi mahasiswa tingkat tiga. Intinya, hidup lagi enak-enaknya dan gak ada beban, sibuk tapi overall santai. I live for my own self, tapi belum sepenuhnya tanggungan diri sendiri. 
Selain 'menikmati saat ini', umur 21 itu juga saat-saat kita excited ngerancang kedepannya mau ngapain, nemuin "purpose in life" lah istilahnya. Gak lupa juga, dengan segala pengalaman, saya yakin seseorang di umur 21 juga udah cukup punya "pengalaman" yang bikin hati-hati, dewasa, dan cukup wise dalam memandang segala sesuatunya. Hopefully nggak membabi buta ya. Makanya, waktu sebelum ultah kemarin, saya semacam "can I be 21 foreveeer haa haa haaauaahahaa hahaha hahaha hahaha." Gak bohong juga, memasuki usia 22 rasanya tiba-tiba everything jadi serius : skripsi, kelulusan, kerja, bam bam bam, bergantung sama diri sendiri, happily bantuin keluarga, rencana akan passion-passion, dll. Gak bisa tuh balik lagi ke kelas, happily kuliah, ngerjain tugas, haha hihi di kampus, leyeh-leyeh gaada tanggung jawab (well ada sih tanggung jawab asisten, which I enjoyed), dst. Udah saatnya mungkin, ideally speaking, make ilmu di kelas itu buat kontribusi di dunia nyata, and so on. Udah saatnya bantu orangtua. Udah saatnya, jadi profesional yang bertanggung jawab. In the other side, saya jadi bisa membuat kesempatan untuk melakukan hal yang saya mau, kerja, dapet gaji, nabung, terus pelesir ke tempat-tempat yang saya mau. Dan satu lagi, saya bisa wujudin tujuan jadi "One happy yuppie !" Yuk ah, semoga jadi corporate slave yang hepi, yang bukan kejar duit, yang cinta rutinitas, yang berasa bermakna, yang hepi kasih kontribusi, yang kalopun banyak obstacles tetep bisa hepi karena happiness itu state of mind (in regards to other source of happiness yaaah). Semoga yaa, Aamin Ya Allah, semoga jangan stres, jangan merasa "duh I don't like what I do", ngeluh mulu padahal udah dikasih berkah yang banyak, and so on. Semoga juga tetep hepi, fleksibel dan ketawa ringan atas semua perubahan. Kalimat saya ini terkait sama 2 tulisan di blog ini, satu ditulis tahun 2009, satu ditulis tahun 2013. Ngomongin satu hal. Terus point of view saya berubah, gak tanggung-tanggung, 180 derajat. Makin tua kan kita makin diekspos terhadap banyak hal ya, begitupula dengan saya-versi-sma dengan saya-versi-kuliah. Gak heran, bisa sebegitunya pola pikir berubah.
Oh ya, terus di umur 22 ini saya mulai mikir, emang yang namanya hidup harus dihadapi. Kelamaan main aman juga gak tenang, perlu take risks (kaya dulu, beberapa tahun lalu) live to the fullest biar ngerasain "injek" tanah. Kalo ada obstacles, hadepin. Ya oke sih hidup dengan penuh "kontrol" dan build walls itu somehow bikin tenang, tapi kelamaan bikin sesek. Perlu take risks lagi biar berasa cara hidup seperti sebelumnya itu adalah "bekal" yang ada manfaatnya.


Ya gitu...

Balik lagi ke blog mahmud, browsing2, dan himym2. Saya jadi ngerenung. Apa yang saya baca di blog tsb itu mungkin beberapa fase atau scene aja dalam kehidupan orang-orang tsb. Juggling2 ada pasti tapi overall it must be, it seems nice. Balik lagi ke himym, ketika semuanya bisa dilihat dari span waktu yang lebih panjang, yang mengcover cerita keseluruhan, saya berasanya jadi "deuh" dan mencelos. Sebenarnya sama aja sih, kalo kita misalnya disuruh mereview journey dari tahapan-tahapan hidup kita, sd, smp, sma, achievements, saat-saat "jatuh", saat-saat yang biasa aja, pengalaman masa kecil, remaja, menjelang dewasa, dan lain-lain. Ini show yang tadinya millions of people assumed menggambarkan "hope" dll, eh di episode finalnya, dengan time frame yang saya jelasin di atas, tiba-tiba jadi BAM about "real life", realistis, "life happens" lah, etc, etc, etc. Yeu. Boo. Okelah. Yagitu. Hmmmpppfh. Iyadeh. Dan, ini lagi sih lessons penting yang saya ambil :

Kalo mau Happy, mbok ya jangan NDABLEG jadi orang :D huahahahahaa.


Begitulah racauan hari ini ! Mari tetap bersyukur, istiqomah, dan selalu mengucap bismillah. Saya balik olah data lagi, ah ! semangat semangat !

No comments: